Hypnocative Article

HCS 58

 

Membaca kata “belajar bahasa Inggris” pada judul artikel ini barangkali membuat kenangan duduk di bangku sekolah menengah muncul kembali pada benak Anda, yaitu pada saat Anda sedang memperhatikan Ibu guru menerangkan tentang grammar. Sedemikian bersemangatnya sang Ibu guru tersebut memaparkan pokok bahasan mengenai struktur kalimat dasar sampai-sampai para siswanya terhanyut dan sepenuh hati menyimak. Walaupun demikian, Anda tentu menyadari dengan jelas adanya sorotan beberapa teman sekelas Anda yang juga membiaskan ketidakmengertian.


Tatkala Ibu guru meminta si Badu membuat kalimat baru sesuai rumus, semua mata seketika beralih arah, menoleh kepadanya. Si Badu terlihat berpikir sejenak, kemudian dengan terbata-bata mulutnya mengeluarkan sederet suara asing yang sebenarnya tidak mampu ia ucapkan. Kata-kata bahasa Inggris itu kemudian dilantunkannya dengan gaya pengucapan seperti bahasa Indonesia. Alhasil, suasana yang khusuk mendadak menjadi riuh rendah dengan suara tawa serentak seisi penghuni kelas. Ejekan serta tawa dikhususkan untuk si Badu yang tidak mampu mengucapkan bahasa yang sangat sulit bagi dirinya. Si Badu pun tertunduk malu dan merasa dipermalukan, harga dirinya tercabik-cabik. Mentalnya retak, lalu roboh berkeping-keping.

Peristiwa itu demikian kuat tertanam dalam pikiran bawah sadar sampai-sampai akhirnya tumbuh sikap antipati dalam dirinya terhadap bahasa Inggris seumur hidup si Badu. Mempelajari keterampilan baru yang seharusnya menyenangkan, yaitu karena akan menopang kehidupan karirnya di masa mendatang malah menjelma menjadi momok yang lebih menakutkan dibanding bertatap muka langsung dengan kuntilanak atau genderewo sekalipun. Si Badu bisa jadi merupakan representasi saya, Anda, teman kita dan seabreg warga belajar serta mantan warga belajar yang senasib, yang hingga saat ini masih tetap trauma dengan insiden memalukan semacam demikian.


Di sisi lain ada juga kawan yang meragukan kesuksesan dirinya. Sudah tiga tahun di bangku SMP, plus tiga tahun di SMU ditambah lagi beberapa tahun di perguruan tinggi sudah dihabiskan untuk memupuk keterampilan berbahasa Inggris, toh hasilnya sama sekali minim, benar-benar tidak layak untuk dibanggakan. Bagaimana mungkin kursus yang hanya beberapa bulan bisa menggembleng seseorang menjadi terampil berbahasa Inggris? Tidakkah hal itu berlebihan atau hanya angan di atas awan?


Kawan yang meragukan seperti ini mungkin juga mewakili saya, Anda, teman kita dan seabreg warga belajar serta mantan warga belajar yang sepenanggungan, yang hingga saat ini masih belum juga mampu berbahasa Inggris dengan baik. Bahkan ketika kita semua menyadari benar betapa penguasaan bahasa ini menjanjikan masa depan yang cemerlang bagi kesinambungan karir dan pekerjaan.


Kondisi seperti inilah yang menjadi perhatian Hypnocative Speech. Pembelajar remaja dan dewasa tidak hanya dihadapkan dengan kepelikan bahasa asing, tetapi dihadang juga oleh mental block dari dalam diri sendiri.


Berbagai kalimat motivasi dari luar dengan kalimat hikmat nyata-nyata tidak banyak membuahkan. Dipaksakan dengan sistem, malah kontra-produktif. Oleh karena itu, perubahan harus dipompa dari dalam diri pembelajar.


Hypnosis dan hypnotherapy tampil mengemuka dengan segudang prestasi keberhasilan mengikis habis kebiasan buruk dan mental block lainnya. Penderita phobia, perokok berat, si peminder dan penderita mental kurang sehat sudah banyak yang disembuhkan. Caranya efektif dan tidak mengandung resiko sama sekali, yaitu dengan membawanya ke alam relaksasi, digiring ke kondisi trance dan dipandu untuk menjalin komunikasi intens antara pikiran bawah sadar dengan pikiran sadar dalam bentuk sugesti positif. Dalam waktu singkat hasilnya pun dapat terlihat. Pada dasarnya, dalam diri siapa pun terdapat pengalaman, kenangan manis dan semangat menggebu-gebu ketika mempelajari hal-hal baru sehingga keberhasilan sempat dinikmati. Kondisi semacam inilah yang digali kembali, direfresh, dan ditanamkan ulang, diperkuat dalam diri peserta agar dapat dengan lebih mudah menyerap informasi dan keterampilan baru, khususnya keterampilan berkomunikasi dalam bahasa Inggris.


Tidak ada hal-hal magis dan klenis maupun mantra-mantra perdukunan dalam program yang menggunakan metode hypnocative ini. Semuanya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, bahkan sudah divalidasi berkali-kali.


Bagaimana dengan pemanfaatan NLP (neuro-linguistic programming) dalam hypnocative speech? Sebelum menjawabnya, marilah kita buka fakta di alam nyata.
Almarhum Prof. HAMKA adalah penggemar Almanfaluthy, seorang sastrawan dari Mesir. Bila kita membandingkan karya tulis kedua tokoh besar ini, akan tampak betapa gaya berbahasa HAMKA mirip dengan cara pengungkapan Almanfaluthy. HAMKA tentu tidak pernah menjiplak karya satrawan Mesir itu. Ia hanya banyak membaca tulisannya dan memodel. Pelawak Kiwil dengan bangga meniru Almarhum K.H. Zainuddin MZ; Aa Jimmy menjiplak Aa Gym; dan Gus Pur mempola Almarhum Gus Dur. Entah disadari atau tidak, sebahagian kepribadian, sikap dan pola pikir ketiga orang terkenal itu diwarnai oleh tokoh-tokoh idolanya. Begitu pun dengan cara berbahasa mereka. Prosesnya singkat, to the point dan jelas membuahkan hasil yang diinginkan.


Pola memodel seperti itulah yang ditawarkan oleh NLP. Penerapannya dalam hypnocative adalah dengan membimbing warga belajar memodel cara berbahasa penutur asli (native speaker) secara sistematis, melatih dengan kegiatan komunikatif serta mentrasfer ke alam nyata. Dengan kata lain, peserta dibimbing lewat kegiatan kebahasaan yang mencerminkan keseharian alam nyata.


Kegiatan memodel dalam hypnocative bukan dengan cara serampangan, melainkan disinergikan dengan cara kerja otak dan kecenderungan preferensi belajar tiap peserta. Urutan-urutan pemerolehan bahasa seperti dijelaskan dalam psikolinguistik turut pula berperan. Hal ini bisa dilihat dari pemilihan dan urutan tampilan bahan ajar.


Tidak hanya sampai disana, warga belajar juga dibekali dengan materi pembelajaran mandiri yang selaras dengan program dan tingkatan kemampuan berbahasa mereka. Ditambah lagi, mereka dilibatkan dalam evaluasi kemajuan pembelajaran. Semuanya dibuat transparan. Jadi tidak hanya lembaga dan guru yang menjalankan evaluasi secara simultan, warga belajar pun berhak menilai kemajuan.


Ada jaminan keberhasilan yang disiratkan. Bila setelah berusaha keras mengikuti semua aturan masih tetap belum dapat mencapai hasil yang dicanangkan, tiap peserta berhak mendapat tambahan pembinaan hingga tujuan tercapai tanpa perlu mengeluarkan kocek tambahan sepeser pun.
Seperti itulah gambaran umum program Hypnocative Speech yang membantu pesertanya belajar bahasa Inggris menggunakan metode Hypnocative.

Anda tertarik untuk mencoba Hypnocative Speech?
Klik disini untuk mengetahui jadwal terdekatnya.